Beberapa hal yang menyinggung akan kehidupan yang telah maupun sudah saya rasakan hingga sekarang, hanya ada beberapa yang membuatku menjadi begitu tak bisa untuk berbuat lebih, merasakan kembali adanya ketidakberdayaan, membuat diri memproses segala sesuatu dalam sudut pandang yang sulit:satu kata untuk itu adalah pesimis tanpa adanya positifisme. Ya saya memandang pesimis akan diri dalam kehidupan ini.
Ada beberapa hal yang sering membuat saya tak pernah merasa tenang hingga kembali menarik diri ini untuk menyadarkan diri bahwa saya adalah hanya seorang yang tak berarti. Hingga membuat diri ini tak jarang untuk menempatkan dalam keadaan yang paling terburuk.
Beberapa pekan ini hal-hal yang tak menyenangkan kembali menghampiri hidup. Bisa dipastikan hal ini terjadi mungkin karena saya memang orang yang kurang bisa bersyukur, disaat saya merasa membutuhkan sesuatu semangat dan dengan itu saya mencoba mendekatkan diri dengan KekuasaanNya di sana pula saya mendapatkan kenyataan yang sebaliknya.
Hal yang terakhir saya terima membuatku semakin tak bisa berbuat apa-apa, merasakan bahwa saya hanyalah orang yang sangat mengganggu dalam tatanan kehidupan: Saya tidak bisa menjadi orang yang bisa diandalkan meskipun hanya untuk menjadi tempat mendengarkan cerita akan gundah seorang teman, Saya tidak bisa memberikan kesenangan kepada keluarga dengan hasil bekerja sendiri namun malah sebaliknya masih saja merepotkannya, Saya belum bisa memberikan kesenangan dengan memberikan tawaran-tawaran berbagi kesenangan dengan teman-teman yang saya anggap dekat:maaf teman saya juga sedang kekurangan materi :( , saya tak begitu beruntung dalam lingkungan pekerjaan yang sedang saya punya saat ini.
Tekanan demi tekanan setiap hari terasa menjadi beban, bukan menjadikan motivasi yang membuat saya lebih optimis. Beberapa bulan kebelakang saya merasakan rindu akan hadirnya teman yang bisa dijadikan tempat berbagi, sehingga seketika mengingatkan pada kawan-kawan yang ada di Bandung, membuat pikiran menginginkan untuk mendapatkan pekerjaan di sana.
Namun saya kembali mencoba bertahan dengan kehidupan yang saya punya saat itu, keinginan saya untuk memiliki sebuat gadget penghubung akses ke jejaring sosial saya sudah dapati, mulai saat itu saya mencoba kembali melihat apa yang saya miliki sekarang, ya saya masih mempunyai seorang teman wanita terdekat saya.
Dia, teman yang dulu selalu menyadarkan sikap dan logika ini yang memang kurang mendapatkan kritikan. Namun beberapa hari saya merasakan dia mengurangi perhatian itu, ketika dimana keadaan saya sangat membutuhkan motivasi untuk tetap bertahan dengan harapan, ya dia harapan saya ketika itu. Kita bergejolak hingga tanpa saya sangka dia memberikan pernyataan untuk meninggalkan keberadaannya dalam harapan itu. Hancur, ya itu yang saya rasakan.
Kembali sedikit demi sedikit mencoba membiasakan diri untuk mengikuti aliran kehidupan, saya masih mempunyai alasan untuk dapat bersyukur dengan melihat keluarga dan pekerjaan yang saya punya, namun beberapa hari ini ketika saya menelusuri keberadaan di tempat pekerjaan adalah tanpa status kepegawaian yang jelas, 121113003 bukanlah nomor kepegawaian saya, hingga saya meminta konfirmasi bagian SDM ternyata memang status saya belum jelas.
Tetapi masih tersimpan harapan untuk tetap bertahan, saya masih memiliki teman-teman lain di Bandung, maka sayapun pergi mengunjungi mereka yang tengah sibuk dengan kehidupannya masing-masing, masih mencari hingga saya mengunjungi kota tetangga yaitu Cimahi. Di sini tidak lebih baik dan saya mendapati tulisan dimana teman wanita saya bukan orang satu-satunya yang ada dalam harapannya, ya sebenarnya saya masih menyimpan harapan, hingga saat tulisan ini saya buat masih merasa bingung.
Ada beberapa hal yang sering membuat saya tak pernah merasa tenang hingga kembali menarik diri ini untuk menyadarkan diri bahwa saya adalah hanya seorang yang tak berarti. Hingga membuat diri ini tak jarang untuk menempatkan dalam keadaan yang paling terburuk.
Beberapa pekan ini hal-hal yang tak menyenangkan kembali menghampiri hidup. Bisa dipastikan hal ini terjadi mungkin karena saya memang orang yang kurang bisa bersyukur, disaat saya merasa membutuhkan sesuatu semangat dan dengan itu saya mencoba mendekatkan diri dengan KekuasaanNya di sana pula saya mendapatkan kenyataan yang sebaliknya.
Hal yang terakhir saya terima membuatku semakin tak bisa berbuat apa-apa, merasakan bahwa saya hanyalah orang yang sangat mengganggu dalam tatanan kehidupan: Saya tidak bisa menjadi orang yang bisa diandalkan meskipun hanya untuk menjadi tempat mendengarkan cerita akan gundah seorang teman, Saya tidak bisa memberikan kesenangan kepada keluarga dengan hasil bekerja sendiri namun malah sebaliknya masih saja merepotkannya, Saya belum bisa memberikan kesenangan dengan memberikan tawaran-tawaran berbagi kesenangan dengan teman-teman yang saya anggap dekat:maaf teman saya juga sedang kekurangan materi :( , saya tak begitu beruntung dalam lingkungan pekerjaan yang sedang saya punya saat ini.
Tekanan demi tekanan setiap hari terasa menjadi beban, bukan menjadikan motivasi yang membuat saya lebih optimis. Beberapa bulan kebelakang saya merasakan rindu akan hadirnya teman yang bisa dijadikan tempat berbagi, sehingga seketika mengingatkan pada kawan-kawan yang ada di Bandung, membuat pikiran menginginkan untuk mendapatkan pekerjaan di sana.
Namun saya kembali mencoba bertahan dengan kehidupan yang saya punya saat itu, keinginan saya untuk memiliki sebuat gadget penghubung akses ke jejaring sosial saya sudah dapati, mulai saat itu saya mencoba kembali melihat apa yang saya miliki sekarang, ya saya masih mempunyai seorang teman wanita terdekat saya.
Dia, teman yang dulu selalu menyadarkan sikap dan logika ini yang memang kurang mendapatkan kritikan. Namun beberapa hari saya merasakan dia mengurangi perhatian itu, ketika dimana keadaan saya sangat membutuhkan motivasi untuk tetap bertahan dengan harapan, ya dia harapan saya ketika itu. Kita bergejolak hingga tanpa saya sangka dia memberikan pernyataan untuk meninggalkan keberadaannya dalam harapan itu. Hancur, ya itu yang saya rasakan.
Kembali sedikit demi sedikit mencoba membiasakan diri untuk mengikuti aliran kehidupan, saya masih mempunyai alasan untuk dapat bersyukur dengan melihat keluarga dan pekerjaan yang saya punya, namun beberapa hari ini ketika saya menelusuri keberadaan di tempat pekerjaan adalah tanpa status kepegawaian yang jelas, 121113003 bukanlah nomor kepegawaian saya, hingga saya meminta konfirmasi bagian SDM ternyata memang status saya belum jelas.
Tetapi masih tersimpan harapan untuk tetap bertahan, saya masih memiliki teman-teman lain di Bandung, maka sayapun pergi mengunjungi mereka yang tengah sibuk dengan kehidupannya masing-masing, masih mencari hingga saya mengunjungi kota tetangga yaitu Cimahi. Di sini tidak lebih baik dan saya mendapati tulisan dimana teman wanita saya bukan orang satu-satunya yang ada dalam harapannya, ya sebenarnya saya masih menyimpan harapan, hingga saat tulisan ini saya buat masih merasa bingung.
Harapan, saya tak pernah berani dengan harapan yang jauh. Mungkin hanya misi yang saya punya dengan Visi yang tak begitu jelas terukur, terus terang saya takut jika harus tenggelam lebih dalam dan jatuh dari tempat yang lebih tinggi. Mengingat kehidupan sehari-hari dalam lingkungan penuh tekanan, kurang enjoy hingga merasakan waktu yang begitu sempit, apalagi jika harus kembali menemukan seseorang sebagai teman yang bisa membangun harapan.
Ya, saat ini saya hanyalah orang yang membuang-buang waktu dan tersesat entah kegiatan apa yang harus dilakukan demi mendapatkan kesenangan tanpa uang yang cukup dan waktu yang sempit ini. Sangat tidak senang dengan keadaan seperti ini, tak bisa memanfaatkan waktu istirahat pikiran dengan pikiran yang beristirahat ;(
Dan akhirnya, kembali saya mendapati kenyataan bahwa saya adalah orang yang tak begitu berguna untuk sekeliling, saat ini.
Cimahi, 20 November 2011:06:52

No comments:
Post a Comment