Ada beberapa yang tak menjadi biasa dan sekarang kupaksakan untuk biasa, menjalani hari-hari penuh dengan tekanan tak bisa bebas tanpa beban seperti dulu. Hal yang senang hilang begitu saja, meski saya sadar benar mengapa harus menghadapi semua, semua demi kesenangan juga, mungkin kesenangan yang dahulu diinginkan.
Sebenarnya tak terlalu menginginkan keadaannya begitu berubah menjadi jauh sekali, ya benar jauh. Saya tuliskan kata jauh karena saya merasa ada hal-hal yang menjauh, semuanya masih bisa dilakukan hanya saja tak semudah dahulu, kini menjadi terasakan jauh, kesenangan disaat bisa bersama-sama. Jauh dari orang-orang yang bisa diajak bicara dengan bahasa yang nyaman saya gunakan, dimana saja dan kapanpun itu. Tidak seperti sekarang, kebiasaan berbahasa saya masih melekat pada bahasa dahulu, meskipun tak terlalu sulit untuk berbaur menggunakan bahasa sekarang disini, tapi tetap saja kenyamanan itu tak hadir dalam setiap perbincangan yang biasanya ada senyum maupun tawa mewarnainya.
Bahasa bandung dan bahasa perkotaan khususnya jabodetabek, padahal saya masih di Jawa Barat. Ya Depok itu termasuk Jawa Barat, namun hanya sedikit yang saya temui untuk bisa berbincang dengan berbahasa Sunda. Terasa kaku, mungkin belum terbiasa, dan saya entah tak begitu menyukai untuk berbahasa Indonesia gaul.
Saya menyebutkan kota Bandung, ada beberapa hal yang Tidak Ada di Bandung ketika saya menjalani hari-hari di Depok, sebuah daerah sekitaran Selatan Jakarta ini. Ya, berikut hal-hal yang tak jarang saya jumpai di sini...
Udara dan Suhu - Memang di sini tidak terlalu panas seperti di Jakarta pusat, namun tetap hawa seperti ini tak pernah ada di Bandung, dimalam dan siang hari masih saja terasa panas, hawa sesak terus menyelimuti, gerah. Kadang bandungpun mengalami hal seperti ini, namun tak selalu seperti ini, di malam-malam hari serta menjelang subuh hawa sejuk bahkan dingin seringkali menembus pakaian hingga tubuh saya.
Mall - Berjejer mall dengan jarak yang tak begitu jauh, tepatnya di jalan margonda ini banyak mall yang berjejer dipinggirnya, mulai dari Detos (Depok Town Square) yang bersebrangan langsung dengan Margo City sebuah mall yang cukup besar katanya kelas mereka (mall-mall ini) berbeda meski berdekatan, margo untuk kalangan yang mempunyai uang berlebih. Tetepi anehnya mau yang kelas menengah bawah, mau kelas Tinggi tetap saja sepi, masih banyak konter-konter tempat jualan yang belum dibuka alias kosong, begitupun jalan-jalan mall yang begitu lebar sepi akan orang yang bergumul, sesuatu banget, ya.. karena di bandung saya jarang menemukan hal seperti ini. Mungkin untuk beberapa mall di Bandung memang sepi seperti itu (Paskal Hyper Square, Be Mall, Mall yg ada di Cicadas dan jalan jakarta- itu mungkin) ya saya maklumi karena itu adalah jalan bukan berdekatan dengan kampus maupun pusat, tapi ini kan jalan Margonda memang jalan yang hidup, dekat dengan kampus-kampus, tempat yang ramai dengan jajanan pinggir jalan. tapi ya begitulah.. wkwkwk
Jalan lebar - wah ini memang benar, di Bandung susah sekali mendapatkan jalan yang lebar, kecuali jalan-jalan yang akhir-akhir ini diperlebar ( contohnya jalan Suci dan jalan Pasteur). tetapi ini jalanan yang begitu lebar tiap kali jam pulang kerja tetap saja macet, seperti di jalan By Pass Bandung dan Cihampelas aja, tiap hari macet -.-" eh tapi cihampelas mah kecil jalannya udah gitu banyak orang yang berjualan dipinggir jalan.
Sebenarnya tak terlalu menginginkan keadaannya begitu berubah menjadi jauh sekali, ya benar jauh. Saya tuliskan kata jauh karena saya merasa ada hal-hal yang menjauh, semuanya masih bisa dilakukan hanya saja tak semudah dahulu, kini menjadi terasakan jauh, kesenangan disaat bisa bersama-sama. Jauh dari orang-orang yang bisa diajak bicara dengan bahasa yang nyaman saya gunakan, dimana saja dan kapanpun itu. Tidak seperti sekarang, kebiasaan berbahasa saya masih melekat pada bahasa dahulu, meskipun tak terlalu sulit untuk berbaur menggunakan bahasa sekarang disini, tapi tetap saja kenyamanan itu tak hadir dalam setiap perbincangan yang biasanya ada senyum maupun tawa mewarnainya.
Bahasa bandung dan bahasa perkotaan khususnya jabodetabek, padahal saya masih di Jawa Barat. Ya Depok itu termasuk Jawa Barat, namun hanya sedikit yang saya temui untuk bisa berbincang dengan berbahasa Sunda. Terasa kaku, mungkin belum terbiasa, dan saya entah tak begitu menyukai untuk berbahasa Indonesia gaul.
Saya menyebutkan kota Bandung, ada beberapa hal yang Tidak Ada di Bandung ketika saya menjalani hari-hari di Depok, sebuah daerah sekitaran Selatan Jakarta ini. Ya, berikut hal-hal yang tak jarang saya jumpai di sini...
Udara dan Suhu - Memang di sini tidak terlalu panas seperti di Jakarta pusat, namun tetap hawa seperti ini tak pernah ada di Bandung, dimalam dan siang hari masih saja terasa panas, hawa sesak terus menyelimuti, gerah. Kadang bandungpun mengalami hal seperti ini, namun tak selalu seperti ini, di malam-malam hari serta menjelang subuh hawa sejuk bahkan dingin seringkali menembus pakaian hingga tubuh saya.
Mall - Berjejer mall dengan jarak yang tak begitu jauh, tepatnya di jalan margonda ini banyak mall yang berjejer dipinggirnya, mulai dari Detos (Depok Town Square) yang bersebrangan langsung dengan Margo City sebuah mall yang cukup besar katanya kelas mereka (mall-mall ini) berbeda meski berdekatan, margo untuk kalangan yang mempunyai uang berlebih. Tetepi anehnya mau yang kelas menengah bawah, mau kelas Tinggi tetap saja sepi, masih banyak konter-konter tempat jualan yang belum dibuka alias kosong, begitupun jalan-jalan mall yang begitu lebar sepi akan orang yang bergumul, sesuatu banget, ya.. karena di bandung saya jarang menemukan hal seperti ini. Mungkin untuk beberapa mall di Bandung memang sepi seperti itu (Paskal Hyper Square, Be Mall, Mall yg ada di Cicadas dan jalan jakarta- itu mungkin) ya saya maklumi karena itu adalah jalan bukan berdekatan dengan kampus maupun pusat, tapi ini kan jalan Margonda memang jalan yang hidup, dekat dengan kampus-kampus, tempat yang ramai dengan jajanan pinggir jalan. tapi ya begitulah.. wkwkwk
Jalan lebar - wah ini memang benar, di Bandung susah sekali mendapatkan jalan yang lebar, kecuali jalan-jalan yang akhir-akhir ini diperlebar ( contohnya jalan Suci dan jalan Pasteur). tetapi ini jalanan yang begitu lebar tiap kali jam pulang kerja tetap saja macet, seperti di jalan By Pass Bandung dan Cihampelas aja, tiap hari macet -.-" eh tapi cihampelas mah kecil jalannya udah gitu banyak orang yang berjualan dipinggir jalan.
No comments:
Post a Comment