Tuesday, October 4, 2011

kata-kata demi paragraf

Kamu suka akan menari, bukan? Akupun sama tetapi saya lebih senang jika menari dengan membuat musik untuk dapat kamu gunakan untuk menari.

Saya akui untuk menyusun nada bukanlah merupakan hal yang mudah bagi saya, tapi saya lebih suka untuk membuat tempo untuk menjaga ritme nada-nada itu.

Kita bisa saja berbeda dalam keadaan kebiasaan, tak selalu sama itupun tak hanya menjadi persoalan, karena tak setiap persoalan itu akan menjadi masalah.



Hal-hal yang berbeda sering kali membuat kita lebih mudah untuk dinikmati otak sehingga bisa dengan mudah kita kenang, meskipun kesekian kalinya. Itulah keanehan.

Keadaan yang kualami ini seringkali merupakan bukan khayalan indah  yang diharapkan, namun dengan mengalami semua ini membuatku lebih bisa berfikir lebih dalam, semoga.[meski pernyataan ini adalah hal yang masih saya ragukan].

Air yang mengalir, hujan yang turun, percikan yang menari, genangan air jalan yang kita cipratkan, aroma debu yang terbang, sore yang indah setelah hujan, tak banyak yang dilakukan, hanya sabar menunggu hinggga tersenyum dan melangkah setelahnya.

Demi malam dengan hembusan angin yang dingin, tetap bertahan dengan suara-suara dan nada yang tak menentu, lirik-lirik yang bertebaran, ceritakan tentang semua, hingga tertidur pulas hingga menyesakkan kerinduan ketika terbangun.

Pernah saya menceritakan tentang kesedihan dan keterpurukan, dan selalu saja kamu dipihak membenarkanku. Menjadikan seseorang yang bisa kembali tersenyum mengingatkan semua hal yang membuatku bisa bertahan untuk melewati satu-persatu kegamangan. Hingga akhirnya, saya lepas dan tak tersadar semuanya terlepas.

Tetapi sekarang... Saya masih percaya, saya masih mengingat akan hal-hal yang menyenangkan yang pernah kita doakan, tak hanya di sini, di dunia ini.

Setiap kali nada-nada tentang kenangan, tentang saling percaya, tentang senyum esok hari dan tangisan hari ini, tentang semua yang terlalu. hal itu tentu masih ada, hingga kemarin saat saya mengeluarkan sedikit sampah yang saya dapati ditempat baru ini, hanya rindu yang ada ketika keterbatasan untuk bertatap mata.

Kadang rasa cemburu tak bisa secara pasti saya jelaskan dengan real, logika terputus hingga mulut ini terbawa akan perasaan menyulut sebuah emosi. Seperti melody membawa suasana perasaan, berputar merasuki kepala dan emosi ini membawa semua yang saya dapati -sesuatu keadaan real- Serasa kurang hingga ingin merasakan yang tak terjadi. Saat ini.

Pasti ada alasan, apakah yang menjadi alasan semua ini?
Untuk apakah ini?
Tak inginkan sesuatu yang tak pasti, hingga kecewa.
Apakah lebih baik kita terluka untuk saat ini?
Belum bisa ku buktikan dan membuat percaya.

Ketika biru menyapa, hari ini.

No comments:

Post a Comment