Setiap kali terbangun dalam tidur merasakan lelah, seperti terus berlari menjalani putaran waktu yang begitu lambat. Tak banyak yang bisa dia perbuat, hanya berbicara menunjukkan arah kepada orang yang tersesat dari tapaknya terdahulu, terlihat puing-puing sekeliling menjadi putih membuat dia tak pernah tahu keberadaan dia sekarang, tak pernah berani menerobos dingin dari dinding dan aspal dingin. Tak ada serpihan yang bisa dia jadikan petunjuk, semuanya terlihat begitu sepi.
Kepercayaan terhadap kehidupan menjadi sempit, pola pikir yang picik menggeliat kuat didalam otaknya, rasa ego akan ke-aku-annya tak terimbangi raut muka yang meyakinkan. Melihat sekeliling telah berubah, melihat sekeliling.. memutari setiap sudut yang pernah menjadi sinar mimpi, hanya kosong. Ya, tatapannya kosong; seperti amnesia, lupa segala hal masalah yang pernah terlewat yang terpecahkan, segala hal yang rusak yang bisa dia perbaiki. Hilang pengetahuan dirinya sendiri, tak merasakan kehadiran orang lain yang mungkin memperhatikan tiap menit.
Kehidupan hari ini memaksa dia dan sahabatnya tak bisa berfikir, diskusi tentang perjalanan yang akan ditempuh, menjadikan mereka begitu berbeda, yang kembali menenggelamkan kepercayaan dirinya sendiri. Hingga tak tersadar dia menjadi pecandu dunia yang tidak begitu nyata; Maya. Setiap waktu menggenggam maya, menyimak lebih seksama, menjadikan pikiran yang kembali kerdil.Asap beracun itu, terlihat masih mengepul keluar melewati jedela kamarnya, aroma kopi pun tak pernah berhenti tercium, bercampur dengan bau tanah yang terbang karena gerimis di luar ruang.
Setiap waktu menunggu titian detik berputar berganti. inti semua, dia lebih mengkhawatirkan saat ini, seperti mati, ringkih untuk bergerak.
picures from > http://graphics.ucsd.edu/~henrik/images/imgs/rising_smoke.jpg
No comments:
Post a Comment