Semua berlalu begitu cepat, tidak jelas terlihat dari mana awalnya, dari mana kedatangan semua ini. Mereka membangunkan tidurku, memberikan sedikit sapaan dalam kenyataan yang memisahkan antara mimpi yang tadi ku peluk erat. Menyadarkan akan kenyataan dalam posisi sesadar-sadarnya diriku.
Mata ini masih lelah untuk berfungsi seperti biasanya, melihat keadaan sekitar yang begitu dingin. Di luar sana hujan masih membasahi halaman, dingin ini bersambut dengan udara yang mengalir melalui jendela ruang ini, kulihat pintu masih tetap terbuka entah mengapa begitu bodohnya aku membiarkan pintu ini terbuka terus disaat ku bermimpi pulas, karena dalam sadar aku menyadari dia tidak akan pernah datang kembali kesini.
Dingin ini memberikan suasana yang begitu menyenangkan, karena aku bisa kembali tertidur dan bermimpi kembali, dan itu aku lakukan dengan senang hati, akupun terus melakukannya. Meski kenyataannya aku tak seharusnya begitu, banyak pekerjaan yang harus ku lakukan, banyak tempat yang harus ku datangi dan membuatku pergi dari ruang ini ketempat yang mungkin bisa lebih baik, namun aku memang bodoh karena aku tetap berdiam menunggu dengan tetap membukakan pintu.
Cerita telah aku temukan dalam mimpi sepanjang hari-hariku, sepasang yang bodoh. Mereka menari dan bernyanyi disetiap hari, berjalan menyusuri sore penuh dengan drama, dan kali ini kenyataan bercerita lain, karena ternyata hanya aku yang bodoh.
Biarlah.
No comments:
Post a Comment