Seperti biasa, saya pamit pergi lebih awal dari ruang kerja karena harus mengejar bis terakhir untuk pulang. Tempat tinggal saya lumayan cukup jauh, biasanya bisa ditempuh dalam waktu satu jam dengan menggunakan sepeda motor. Sambil berjalan dari kantor, mataku fokus ke ujung jalan memperhatikan suasana depan terminal, sekedar hanya memastikan bis belum terlewatkan. Di ujung jalan, dip erempatan jalan itu saya mampir sekedar berhenti berjalan lalu duduk di bangku kosong depan mini market yang khas dengan warna merah dan stroke kuning.
Sudah cukup lama hanya duduk memperhatikan lalu-lalang ramainya jalan di depan mata ini, sudah banyak pegawai lainnya juga pulang, ada yang berkelompok baik sambil berbincang dengan jalan kaki ataupun mereka lewati berlalu dengan kendaraannya. Ah saya tidak terlalu memperhatikan merek, saya memilih lebih sibuk meski sekedar mencari lalu mengeluarkan earpod dari dalam tas dan memasangkannya pada handphone, sambil berpura-pura sibuk menatap layar. Padahal saya malas melihat mereka dan lebih memilih lagu-lagu yang biasa nyaman didengarkan.
Kembali mataku tetap fokus ke ujung jalan depan terminal. Sesekali kepala ini tertunduk hanya untuk melihat waktu yang tertampil pada layar handphone, sekejap telunjukku menguncinya kembali. Sepertinya bis belum keluar dari terminal -pikirku-.
15:09 angka yang kubaca di layar handphone. Ternyata masih cukup waktu untuk menunggu bis, setidaknya hingga 20 menit kedepan. Jika sudah melewati batas waktu itu, saya harus segera merubah rencana dengan mencari Andes (baca: Angkutan Pedesaan) agar bisa pulanh. Dan pada tak lama dari dudukku itu memang benar, bis terlihat baru keluar dari terminal. Segera saya berjalan menyebrangi jalan agar mudah dan cepat ketika bis berhenti untuk menungguku menaikinya.
Ketika hanya duduk menunggu tadi, otakku terlalu sibuk membuat rencana, masih berpikir sebagaimana cara mencari jawaban dari kalimat: "bagaimana jika bis sudah lewat?" atau sekedar berpikir "-jika pakai Andes apakah masih ada mobil untuk menyambung perjalanan menuju rumah-". Sehingga apa yang terputar di iPod tak begitu kuhiraukan yang ada membuat mata semakin tajam mengarah ke ujung jalan ini.
Sekarang, saya sudah duduk dengan tenang di dalam bis. Dengan sigap mengatur playlist lagu untuk didengarkan dengan volume hampir 100% membungkam telinga dari kesunyian sekitar dan menerima kebisingan lagu yang terputar dalam setiap perjalanannya. Sudah pasti saya menyuruh iPod untuk mengacak otomatis semua lagu yang ada.
Sesekali dibuka aplikasi media sosial dan messenger hanya melihat notifikasi, tak jarang memulai percakapan ringan atau hanya memosting sesuatu. Perjalanan menuju pulang masih cukup lama, semoga ada hal "menarik" datang yang bisa menarik perhatian dari kebosanan tempatku bersandar dan dari jemunya pada pandangan luar jendela. Patut disyukuri setidaknya saya masih punya kesempatan bekerja (baca: bermanfaat). Mungkin sore ini saya hanya lelah...
Maybe~
Sudah cukup lama hanya duduk memperhatikan lalu-lalang ramainya jalan di depan mata ini, sudah banyak pegawai lainnya juga pulang, ada yang berkelompok baik sambil berbincang dengan jalan kaki ataupun mereka lewati berlalu dengan kendaraannya. Ah saya tidak terlalu memperhatikan merek, saya memilih lebih sibuk meski sekedar mencari lalu mengeluarkan earpod dari dalam tas dan memasangkannya pada handphone, sambil berpura-pura sibuk menatap layar. Padahal saya malas melihat mereka dan lebih memilih lagu-lagu yang biasa nyaman didengarkan.
Kembali mataku tetap fokus ke ujung jalan depan terminal. Sesekali kepala ini tertunduk hanya untuk melihat waktu yang tertampil pada layar handphone, sekejap telunjukku menguncinya kembali. Sepertinya bis belum keluar dari terminal -pikirku-.
15:09 angka yang kubaca di layar handphone. Ternyata masih cukup waktu untuk menunggu bis, setidaknya hingga 20 menit kedepan. Jika sudah melewati batas waktu itu, saya harus segera merubah rencana dengan mencari Andes (baca: Angkutan Pedesaan) agar bisa pulanh. Dan pada tak lama dari dudukku itu memang benar, bis terlihat baru keluar dari terminal. Segera saya berjalan menyebrangi jalan agar mudah dan cepat ketika bis berhenti untuk menungguku menaikinya.
Ketika hanya duduk menunggu tadi, otakku terlalu sibuk membuat rencana, masih berpikir sebagaimana cara mencari jawaban dari kalimat: "bagaimana jika bis sudah lewat?" atau sekedar berpikir "-jika pakai Andes apakah masih ada mobil untuk menyambung perjalanan menuju rumah-". Sehingga apa yang terputar di iPod tak begitu kuhiraukan yang ada membuat mata semakin tajam mengarah ke ujung jalan ini.
Sekarang, saya sudah duduk dengan tenang di dalam bis. Dengan sigap mengatur playlist lagu untuk didengarkan dengan volume hampir 100% membungkam telinga dari kesunyian sekitar dan menerima kebisingan lagu yang terputar dalam setiap perjalanannya. Sudah pasti saya menyuruh iPod untuk mengacak otomatis semua lagu yang ada.
Sesekali dibuka aplikasi media sosial dan messenger hanya melihat notifikasi, tak jarang memulai percakapan ringan atau hanya memosting sesuatu. Perjalanan menuju pulang masih cukup lama, semoga ada hal "menarik" datang yang bisa menarik perhatian dari kebosanan tempatku bersandar dan dari jemunya pada pandangan luar jendela. Patut disyukuri setidaknya saya masih punya kesempatan bekerja (baca: bermanfaat). Mungkin sore ini saya hanya lelah...
Maybe~
No comments:
Post a Comment