Thursday, February 9, 2012

ke:kasih




Seperti senja dulu, akhir-akhir ini senja seperti menunjukan keindahan warnanya. Menyisakan cerita keindahan yang tak pernah tersampaikan, masih tersimpan dalam ruang sepi. Entah, kapan saya akan menemukan sepasang mata yang bisa bersama menghargai lukisan yang bergerak pelan, mengalun seiring angin. Bukanlah seperti hari yang lalu, selalu menyisakan butiran embun di sudut mata dan menghilang dijemput malam.



Kisah-kisah yang telah tercipta menyusun polaku menjadi pendamping yang nyata tercipta, dan tak pernah saya tahu akan berarti selamanya dimana, bukanlah suatu mimpi. Tapi saya tak akan menyesali semua yang terlewati, semua jejak menuntun diri ini untuk berada di sini, menjadi seperti ini, semua saya terima. Yaitu suatu keadaan perasaan sepi, menjauh dari rumah, tertinggalkan semua cinta yang ada, hanya masih mencoba mencari pengertian atas kesepian.

Dengan apa yang terjadi, saya mencoba menyusun mimpi dan mencari mimpi lain yang bisa kupasangkan hingga menjadi arti. Duniaku hanya menunggu nyamannya kehangatan damai yang mungkin datang bersama dengan belaian badai cobaan, saya akan tetap mencoba bertahan dan terus berjalan, meski tak harus mengerti. Hari-hari kujajaki mencari jalan menuju pulang, meski saya rapuh ketika sepi kucoba menghangatkan dengan kisah dan tawa masa silam.

Setiap hela nafas semakin dalam, meningkatkan kesadaran untuk sebisa mungkin tak mengundang kegelisahan yang berdampak pada sekitar, memberikan respek menenangkan, meyakinkanku disaat ku bimbang. Saya berikan kepercayaan pada diri sendiri untuk segera pulang. Meski kembali saya tak pernah tahu itu dimana. Saya menuju rumah, ke:kasih.

No comments:

Post a Comment