Friday, March 19, 2010

Bicaralah dan Bercerita

Matahari siang itu memang sangat terik, kulihat kamu datang membukakan pintu pagar rumahku dengan bawaanmu yang memang terlihat berat. Kulihat kamu, segera aku keluar dari kamarku dan mendekat untuk melihat keadaanmu lebih dekat, dan seketika wajahmu itu berubah tersenyum lebar melihat ku menyambutmu diluar pintu rumah.

Angin bertiup cukup kencang kemudian dan terlihat awan abu berjalan lebih cepat membawa suasana mendung, melepas birunya langit kita. Kita masih berlindung di dalam rumah, menghindari panas dan kita siap untuk menghindari hujan yang mungkin sebentar lagi turun. Kita memang menyukai hujan beserta suasananya. Hujan itu selalu mengingatkanku, membawa suasana di teras rumahku pada waktu percakapan manis pertama kita.

Tak banyak yang kita lakukan di dalam rumah, kadang kita bercerita bagaimana keadaan yang telah dilalui hari ini. Hanya saling diam dan sibuk dengan kegiatan masing-masing, aku menyelesaikan pekerjaanku di depan monitorku dan kamu masih duduk di sampingku, menemani sambil membaca buku-buku cerita yang memberatkan tas bawaanmu itu.

Hujan pun turun, sebelumnya kita telah membeli makanan yang dijual di sekitar rumahku, nasi dan ayam crispy serta minuman manis yang biasanya menenangkan dahaga. Sesekali kita bermain permainan asal Jepang yang kamu bawa, kamu yang mengajarkanku dan aku langsung bisa menyukai Sudoku, itu nama permainannya.

Hujanpun mulai reda, saat sang matahari mulai pergi meninggalkan semua di sini. Hari ini aku bisa mengantarkanmu pulang, sudah lama pula mobilku tak pernah aku pakai keluar, dan aku sangat senang jika keluar rumah dengan suasana setelah hujan. Sejuk dan kadang dihiasi terlihat tipis butiran-butiran air masih turun menemani perjalanan kita.

Kita tertawa dan bercerita sepajang perjalanan, ketika tak ada yang perlu kita kisahkan tak jarang kita menyanyikan lagu-lagu kesenangan kita di sepanjang perjalanan. Aku sengaja tak mengantarkanmu langsung di depan rumahmu, karena aku harus bertemu klien dan tempat kerjaku yang tak jauh dari rumahmu, sehingga terpaksa kamu harus berjalan menuju rumahmu.


Dan malam ini, sekitar rumahku penuh dengan kabut setelah hujan yang turun dari tadi petang, aku menyukai suasana seperti ini, tapi tidak setenang saat aku bisa menceritakan secara langsung keadaan saat ini padamu. Mungkin sekarang kamu sedang terlelap atau mungkin kamu sedang sibuk dengan pekerjaanmu, yang pasti saat ini kamu tak bisa aku hubungi.

Kita begitu saling mengerti, itu yang aku rasakan. Kita banyak merasakan kekurangan satu sama lain, aku bisa mengerti karena bahasa yang kamu ceritakan dan akupun begitu. Kita tak saling memiliki, mungkin kita memang lebih baik untuk menerjemahkan segala isi dalam hati ini, dengan saling berbicara.

Sekarang hanya kehilangan sahabat bercerita dalam hari-hariku.

4 comments: